Hanya Rp. 23 Juta, Rumah Tahan Gempa Model Siput Berdiri

Ternyata rumah Awaludin (39) dan istrinya Waridah (38) warga Montong Dau, desa Teratak, Kecamatan Batukliang Utara yang berarsitektur unik dengan mengambil model ‘sisuk’ atau siput hanya menghabiskan biaya sebesar Rp. 23 juta.

Rumah yang bahan bangunan, terdiri dari karung, tanah, pasir, kapur dan jerami itu merupakan bantuan dari Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah atau Muhammadiyah Disaster Manegement Center (MDMC) yang bekerjasama dengan Universitar Malaya di Malaysia jurusan arsitek.

Pembina MDCM Lombok Tengah Ir. H. Lalu Muhammad Amin mengatakan, pengerjaan pembangunan rumah Awaludin merupakan salah satu bentuk kepedulian dari MDMC, atas gempa bumi yang melanda Lombok. Rumah itu pun dipastikan tahan gempa, tsunami dan gunung meletus. “Rencana kami akan bangun 10 hunian tetap (Huntap) atau rumah model siput dan kami akan fokuskan di Batukliang Utara,”kata Amin sekaligus Asisten I Sekda Lombok Tengah diruang kerjanya, Rabu (3/10).

Namun, bangunan berikutnya menunggu SKp Bupati dan data MDG terhadap warga yang layak dibangunkan Huntap. Memang, warga yang dapat ada kategorinya, yakni warga yang terdapat anak yatim, kaum dhuafa, perempuan yang menjadi kepala keluarga dan memiliki resiko tinggi yang terdapat didalamnya anak balita dan ibu hamil, seperti Awaludin yang memiliki anak balita baru berumur 9 bulan. “Alhamdulillah kini rumahnya mau jadi, “terangnya.

Kemudian, ia jelaskan, biaya per unit rumah model siput tersebut dengan ukuran 7×8 meter dan tinggi bangunan 5 meter, kamar tidur 4 meter dan dapau 3 meter atau setara dengan tipe 36 hanya menghabiskan biaya sebesar Rp. 23 juta. “Materialnya pun tidak sulit, hanya tanah, pasir dan jerami. Semuanyanya pun bisa diambilkan dari bahan lokal,”tuturnya.

Bila bangun seribu rumah pun dengan material yang ada, ia rasa bisa. Apalagi, bahannya bisa didapatkan dari lokal. Tetapi untuk tanah ada komposisinya, tidak boleh terlu berpasir dan terlalu mengandung tanah liat. Pengerjaannya pun tidak sulit, dimana tanah tersebut dimasukkan ke dalam karung goni dengan keadaan setengah basah. Karung berisi material inilah yang digunakan menjadi tembok rumah, yang diapet oleh besi bercakar. Kemudian, kalau sudah kering akan sangat kuat. Dinding bagian luar rumah pun diplester dengan menggunakan semen dan atapnya akan menggunakan jerami. “Bangunan itu pun sudah diperiksa oleh tim teknis dan CPNS Kementerian PUPR dan sudah teruji tahan gempa di sejumlah Negara dan daerah. Sebenarnya persis seperti rumah teletubies di Yogyakarta, “jelasnya.

Sementara tambahnya, sumber dana dari Lazmu, baik pusat, wilayah maupun kabupaten. Selain itu, sejumlah lembaga pendidikan dan lainnya. Untuk diketahui pula, MDMC tidak hanya membuat Huntap, tapi bergerak juga dibidang kesehatan dengan mengirim 5 dokter dan 13 perawat. Selanjutnya melakukan trauma heling dan membuatkan warga Hunian Sementara (Huntara) sebanyak 100 unit, yang sudah terealisasi baru 17 unit. “Biaya per unit bervariasi, mauli dari Rp, 850 ribu hingga R. 8 juta, “tungkasnya. (MP).