Asisten II Sekda Buka Festival Gawe Jelo Nyensek ke-3 Desa Sukarara

Kegiatan festival Gawe Jelo Nyensek yang selalu dihadirkan ribuan penenun bukan saja perhelatan untuk warga Desa Sukarara saja, namun untuk Lombok Tengah, NTB, Indonesia bahkan untuk Dunia. Demikian disampaikan Bupati Lombok Tengah HM.Suhaili FT, SH dalam sambutannya pada acara festival Gawe Jelo Nyensek ke 3 yang disampaikan Asisten II Lombok Tengah, Ir. Nasrun, Sabtu (28/7 di Desa Sukarara Kecamatan jonggat.

Lebih jauh disampaikan bahwa dengan kegiatan tersebut Bupati berharap agar kain songket semaki  menggema keseluruh penjuru dunia. Kain songket merupakan salah satu hasil kerajinan khas Lombok yang pombuatannya telah dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang Desa Sukarara. “Bahkan hingga usia Desa Sukarara mencapai HUTnya ke 263 tahun ini, pembuatan kain songket masih terus dilakukan, “katanya.

Dengan kondisi itu, maka Pemerintah bertugas untuk melakukan pembinaan, bagaimana agar produksi kain songket yang kini menjadi salah oleh-oleh khas sasak itu  bisa terus berkelanjutan. Selain itu agar kwalitas hasil produksi terus bisa dijaga sepanjang masa.” Apalagi kalau kegiatan membuat kain songket itu ditambah dengan keramahtamahan, maka dengan sendirinya wisatawan akan semakin banyak berdatangan dan membeli produk kain songket tersebut, “imbuhnya.

Pada kesempatan  tersebut, dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II Setda Kabupaten Lombok Tengah Ir. Nasrun tersebut, Bupati mengingatkan kepada masyarakat agar tidak mengambil momentum atau aji mumpung terhadap produknya dengan menjualnya dengan harga yang tidak sesuai. Karena hal itu justeru akan berdampak sangat merugikan. “Apalagi saat era Media Sosial saat ini, berita-berita negative begitu cepat tersebar keseluruh dunia, “tandasnya.

Pada kegiatan festival Gawe Jelo Nyensek yang sekaligus dirangkai dengan HUT ke 263 Desa Sukarara tersebut, tidak ada komunikasi langsung sama sekali dengan Pemkab Lombok Tengah karena kegiatan itu atas tekad pihak desa akan coba dilakukan secara mandiri. Namun demikian Bupati tegaskan kalau kegiatan itu harus tetap menjadi kalender event pariwisata di Lombok Tengah. “Jangan sampai kita lepas dengan kegiatan yang menambah warna pariwisata Lombok Tengah, “ujarnya.

Sementara itu Kepala Desa Sukarara, Timan dalam sambutannya menyampaikan, tahun ini kegiatan tersebut murni hanya didanai dari APBDes yakni sebesar Rp. 140 juta. Dan digelar dengan pola berbeda yakni berturut-turut selama 3 hari kedepan dengan peserta sebanyak 500 orang penenun sehari. “Ini merupakan hari pembukaan dan mohon pada penutupan nanti Bupati berkenan hadir, “harapnya.

Pola pelaksanaan selama 3 hari tersebut lanjut Kades merupakan serapan dan aspirasi dari masyarakat. Untuk itu seluruh pihak diharapkan kritik sdan sarannya terkait dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Apalagi penganggaran kegiatan itu merupakan persetujuan dari BPMD selaku Pembina Desa. “Banyak yang ragu bila kegiatan ini digelar selama 3 hari dengan anggaran yang ada, namun Alhamdulillah bisa karena ada swadaya masyarakat talangi kekurangannya, “pungkasnya. (MP)