Penolakan pergantian Nama BIL Bupati dan ASN Bubuhkan Cap Jempol Darah

Penolakan pergantian nama Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi Bandar Udara Internasional Zainudin Abdul Majid terus berdatangan dari masyarakat Lombok Tengah.

Kali ini bentuk penolakan pun dilakukan dengan menusuk jari mereka hingga berdarah, seperti yang dilakukan Bupai Lombok Tengah, HM Suhaili FT.

Seketika itu pun, di lingkar BIL tepatnya di timur hotel D Praya berlumuran darah, semua ASN lingkup Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah maupun masyarakat Lombok Tengah melakukan cap jempol berdarah dan tanda tangan di spanduk yang panjangnya kurang lebih 100 meter, sebagai bentuk penolakannya. “Pokoknya nama BIL harga mati,” tegas Suhaili di orasinya, Jumat (7/9).

Artinya tidak boleh ditubah, entah dengan nama siapapun. Karena nama BIL lah yang bisa mempersatukan Lombok. Itu terlihat di dalam makna kata Lombok. Namun, bila pemerintah pusat tetap ngotot merubah namanya, ia siap pasang badan paling terdepan. “Kalau nanti mereknya lain, kita akan robek,’ujarnya.

Dalam perjuang ini pun ia, tidak takut dipecat. Silahkan saja lapor ke Presiden RI. Joko Widodo. Yang penting ia dan masyarakat Lombok Tengah tidak mau diinjak-injak hanya demi kepentingan politis. Apalagi itu kepentingan pribadinya (Gubernur NTB red). “Jangan mentang-mentang dekat dengan menteri lantas seenaknya mau berbuat, “tuturnya.

Baginya, apa yang dilakukannya (hari ini red) tidak ada kepentingan politik, perjuangan ini munri didasari kepentingan masyarakat banyak. Karena bandara ini bukan hanya milik perorangan atau sekelompok orang, melainkan milik kita bersama yakni NTB. “Ingat bandara ini pula adalag kebangaan Lombok dan NTB pada umumnya, bukan segelintir kelompok atau organisasi, “terangnya.

Harus diingat juga, bandara ini ada dan bisa berdiri megah seperti yang kita lihat tidak terlepas dari dari sejarah, bagaimana warga Lombok Tengah merelakan tanahnya untuk dijual. Ketika itu pun tanah mereka hanya dibeli perarenya sebesar Rp. 200 ribu. Bahkan per hektar hanya dihargakan Rp. 20 juta. Sampai bisa terjadi harga itu pun, mereka diberikan pekerjaan jika sudah jadi bandara.

Intinya, bandara ini ada melalui perjuangan berat. Malah ketika itu pun Run Way saja dibangun dari APBD tingkat I dan II. Apalagi, ketika itu PAD Lombok Tengah hanya Rp. 47 miliar. Sampai-sampai Presisden SBY ketika itu yang datang meresmikan sempat terheran, melihat bandara, yang ketika itu tanpa dukungan pemerintah pusat bisa dibangun Run Way nya. “Artinya, jangan ketika sudah enaknya, lantas semaunya dan menggunakan kekuasaannya, “ucapanya.

Untuk diketahui pula, Almagfurlah Maulana Syekh TGKH tidak pernah mau diagung-agungkan, apalagi akan diagung-agungkan di suatu tempat. Beliau (Almagfurlah Maulana Syekh) ketika itu berjuang murni demi kepentingan umat dank arena Lillahita’ala. Bahkan, semua masyarakat NTB merasa bangga memiliki ulama, yang kini pula diberikan gelar pahlawan, karena atas jasanya terhadap NTB dan Lombok. “Pergantian nama ini pula tidak semua keluarga Almagfurllah Maulana Syekh setuju dan mengehendakinya, “jelasnya.

Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah pusat untuk mempertimbangkan dan mengkaji ulang pergantian nama tersebut. Karena jangan sampai terjadi gejolak ditengah-tengah masyarakat. Kalau pun itu terjadi, siapa nanti yang akan bertanggug jawab. “Kami sudah bersurat ke Menteri Perhubungan RI. Kami berharap surat itu direspon sebagaimana tuntutannya, yakni tidak merubah nama BIL menjadi nama apapun, “tandasnya.

Bentuk penolakan pemerintah Lombok Tengah dan masyarakat pun dilakukan dengan istigosah dilingar BIL. Shalawat dan takbir terus mengiringi orasi penolakan, baik yang dilakukan orang nomor satu di Lingkup Pemerintah Kabupaten maupun dari masyarakat.

Salah satu masayarakat Penujak, Lalu Juprihatin mengatakan, bila persolan ini tidan secepatnya diselesaikan, maka pihaknya akan seselaikan dengan darah dan pedang. “Kalau tetap pemerintah ngotot tak mau mencabut SK tersebut, maka darah dan pedang sebagai penyelesainnya, “tegaskan.

Sedangkan tokoh masyarakat Ketara, HL Muhammad Putria menegaskan, bila sampai berani memasang pelang pengganti nama BIL. Bahkan, ia siap memimpin aksi tersebut. “Kami sudah tidak takut mati. Karena besok, lusa dan nanti pasti kami juga akan mati, “tegasnya.

Untuk itu, tidak ada kata surut dan pantang menyerah untuk mempertahankan nama BIL. Jadi, ia meminta pemerintah pusat segera mencabut SK tersebut. Apalagi, kondisi di wilayah selatan khususnya dan semua wilayah Lombok Tengah pada umumnya sudah mulai mencekam. “Siappun yang mencoba-coba mengganti nama BIL, akan berhadapan dengan kami, “tungkasnya.