Data Warga Miskin Harus Akurat

Seluruh aparat desa dari tingkat RT,RW dan Dusun se Lombok Tengah diminta membuat data kemiskinan yang akurat dan sungguh-sungguh, agar berbagai program kemiskinan yang saat ini dijalankan tepat sasaran. Demikian disampaikan Plt. Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, SIP, Senin (14/5) 2018 dalam pidatonya pada acara Lounching Gerakan Percepatan Penurunan Angka Kemiskinan di Lombok Tengah.

Dikatakan lebih lanjut bahwa dari berbagai diskusi yang dilakukan dengan sejumlah staf desa yang beliau tidak sebutkan staf dari desa mana, terungkap kalau ternyata diduga kuat adanya data yang tidak valid terhadap jumlah warga miskin yang ada di Lombok Tengah. “ Jadi saat saya mincing, bertamu dan atau sekedar kebetulan bertemu dengan banyak staf di desa, mereka bercerita kepada saya kalau hamper semua warga dicatat sebagai penerima bantuan program kemiskinan,”katanya.

Hal itu lanjut Plt. Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, SIP dinilainya sangat mempengaruhi terhadap tingginya data terkait jumlah warga miskin di Lombok Tengah. Akibatnya sangat fatal sehingga disebabkan seolah-olah kalau di Lombok Tengah ini angka kemiskinan masih sangat tinggi.

Bisa dibayangkan saja lanjut Lalu Pathul Bahri, SIP, saat warga yang mestinya tidak boleh mendapatkan Beras Prasejahtera atau Rastra, ternyata masih tetap diberikan hingga saat ini. Maka kedepan kepada para petugas didesa yang diberikan amanah untuk mencatat warga miskin maka harus benar-benar melakukan pencatatan sesuai dengan fakta yang ada. “Kadang-kadang ada bisik-bisik diantara petugas, cata saja semua biar bantuannya banyak, nanti kalau kita tidak berikan malah rebut,”ujarnya. Untuk yang demikian itu, diharapkan kedepan tidak lagi terjadi, agar berbagai program pengentasan kemiskinan benar-benar tepat sasaran. Selain itu, kalau pandangan-pandangan dan pendapat seperti it uterus dibiarkan, justeru akan menjadi tidak baik bagi keberlangsungan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Selain itu lanjut Lalu Pathul Bahri, persamaan persepsi mengenai kriteria warga miskin tersebut, sangat penting untuk diketahui bersama, sehingga dalam mendata warga miskin itu, tidak lagi ada perbedaan, sehingga tidak ada lagi orang yang ternyata kaya namun harus dicatat masuk sebagai orang miskin, karena kesalahan persepsi terkait bagaimana kriteria warga miskin tersebut.