Percepatan Pembangunan Lombok Tengah Melalui Budaya

Lombok Tengah

Berbagai strategi yang dilakukan pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dalam hal percepatan pembangunan daerah. Salah satu strategi yang kali ini dilakukan adalah melalui budaya. Mengingat poteni budaya Lombok Tengah atau Paer Tengak belum dikelola maksimal. Dalam hal ini perkembangan pariwisata di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Dimana nantinya segala bentuk potensi budaya akan dijual. Sebagai pemikat ketertarikan wisatawan. Di samping itu, seperti diketahui potensi alam Lombok Tengah sangat mengangumkan. Namun jika tidak ada inovasi dan kreasi maka tidak akan pernah bisa berkembang. Sehingga budaya akan menjadi pengimbang serta pendukung kelangsungan perkembangan pariwisata di Lombok Tengah.

Pengerakse Paer Tengak, H. Moh Suhaili FT yang di wakili Wakil Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, SIP menuturkan, saat ini adat budaya hamper tergerus dengan kecanggihan modernisasi. Untuk itu, kegiatan ini dirasa sangat perlu untuk dilakukan. Guna menetralisir perkembangan zaman. Adat budaya, lanjut Pathul Bahri sebagai jati diri sudah seharusnya dipertahankan. sehingga generasi ke generasi atau adat budaya tetap melekat tanpa khawatir akan tergerus. “Terutama ini baik untuk generasi saat ini yang sudah terkontaminasi oleh modernisasi,” tuturnya.

Selain itu, Masyarakat Adat Sasak juga memiliki peran penting dalam percepatan pembangunan di Lombok Tengah, keterlibatannya dalam mengawal pembangunan akan sangat berarti. Sehingga perlu adanya sinergitas antara masyarakat adat Sasak dengan pemerintah daerah. “Jika ini terwujud maka percepatan pembangunan di daerah ini akan sangat mudah dicapai, “ungkapnya.

Sementara Ketua Panitia, Lalu Arif Rahman Hakim menuturkan, kegiatan yang bertemakan Peririk Bale Langgak, Gubuk Gempeng, Gumi Paer menuju Lombok Tengah yang Tatas Tuhu Trasna ini diikuti oleh 151 peserta yang mewakili berbagai unsure seperti pengelinsir, cendikiawan, tokoh adat serta tokoh masyarakat di Lombok Tengah. “Ini dalam rangka konsolidasi organisasi yang sudah cukup lama tertunda, “ ujar pria yang juga politis Partai Bulan Bintang (PBB) ini.

Pihaknya berharap dengan adanya konsolidasi ini dapat mencipatakan rekomendasi yang nantinya mampu menjawab persoalan adat di Paer Tengak. Seperti haln ya standarisasi pemakaian pakaian adat yang saat ini banyak disalahgunakan. “Sehingga ada hasil rekomendasi yang mengatur persoalan adat yang muncul saat ini, “ujar anggota Komisi III DPRD Lombok Tengah ini.

Sedangka, keterlibatan Majelis Adat Sasak (MAS) dalam pembangunan daerah sangat penting. Sinergitas yang tercapai nantinya mampu memudahkan dalam penrcepatan pembangunan. Mengingat masyarakat pariwisata saat ini, hanya mengetahui potensi pariwisata alam saja. Akan tetapi masih ada potensi lainnya, yang dalam hal ini pariwisata budaya yang bisa dijual. “ Selama ini kita hanya fokus pada pariwisata alam saja. Sedangkan pariwisata budaya tidak pernah di ekspos, “ungkapnya.

Selama ini, lanjut Arif Rahman, banyak budaya yang bisa dijual kepada wisatawan. Hanya saja tidak ada wadah atau panggung untuk para pelakuk budaya. Untuk itu setelah adanya MAS ini bisa memfasilitasi hal tersebut. “Kita punya banyak kesenian, tapi memang belum ada panggungnya. Sehingga tidak bisa maksimal,”terangnya.

Tidak lupa tokoh MAS mengucapkan terima kasih kepada Bupati Lombok Tengah H.Moh Suhali FT sebagai pengerakse Paer Tengak yang telah memediasi kegiatan ini. Sementara itu. Pemucuk Manjelis Adat Sasak, H.Lalu Mujitahid menuturkan, dari 34 Provinsi jika dilihat dari segi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), NTB masih jauh dibandingkan dengan daerah lain. Dalam hal ini, NTB masih berada pada posisi ke 30.” Ironisnya masih kalah jauh dibandingkan NTT,” turut mantan Walikota Mataram dua periode ini.

Selain itu, NTB dalam hal ini sumber daya manusia (SDM) dan kewirausahaan masih sangat rendah. Begitu banyak pembangunan yang ada di NTB namun hingga saat ini belum ada kepemilikan usaha besar masyarakat sasak. Untuk itu, ia berharap besar kepada siapapun yang memimpin NTB nantinya, harus memperhatikan hal ini. “Agar IPM bisa meningkat dan masyarakat NTB tidak hanya menjadi penonton saja, “pungkasnya.