Kukuhkan Organisasi Hingga Bentuk Awik-Awik

Lombok Tengah

Masyarakat Adat Sasak (MAS) melakukan sangkep beleq perdana dalam rangka mengukuhkan keorganisasi MAS, hingga membentuk awik-awik Sasak secara tertulis. Ketua Panitia sangkep beleq, Lalu Arif Rahman Hakim mengatakan, agenda besar pertemuan kebudayaan tersebut, didasari atas kekhawatiran dan kecemasan para tokoh adat, terhadap kurangnya minat para generasi muda tentang bagaimana melaksanakan budaya sasak.

“Kita ini masyarakat sasak ini memiliki lembaga dan kemudian akan memacu perkembangan budaya dan meletakkan pondasi budaya leluhur yang kini mulai terkikis, “kata Arif saat konferensi pers usai kegiatan, kemarin.

Saat ini, sambungnya kondisi masyarakat terutama di Lombok Tengah mulai mengedepankan modernitas dibandingkan nilai-nilai budaya. Meski ada beberapa yang menerapkan budaya, namun tidak sesuai dengan kaidah yang semestinya telah disepakati oleh para sesepuh budaya.

Misalnya pada penggunaan pakaian adat. Dimana sebagian besar masyarakat menganggap bahwa pakaian adat semua sama, mulai dari bentuk hingga moment kegunaannya. Namun diakui Arif masyarakat tidak mengetahui perbedaan kapan digunakan dan corak warna yang khas dari masing-masing penggunanya. “ Dari ikat kepala saja kita pelajari. Masyarakat Sasak tidak punya ikat kepala berwarna putih tapi dalam suatu acara ada yang menggunakannya, “katanya.

Hal ini akan membuat penggunaan budaya menjadi amburadul jika tidak ada kaidah yang tertulis untuk dapat dipelajari oleh generasi muda. Sementara itu, Wali Paer Sasak, Lalu Mujitahid dalam sambutannya mengatakan, keberadaan organisasi kebudayaan sangat penting di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Karena akan menjadi tameng dari berbagai macam persoalan utama radikalisme, terorisme, hingga atheism. “Jika penerapan budaya ini telah dilakukan dengan benar, maka masyarakat akan selalu terjaga dari berbagai macam persoalan tadi,”katanya di Bencingah.

Sehingga penting untuk segera dibentuk organisasi yang utuh, guna mengontrol perilaku penyimpangan masyarakat terhadap pelanggaran norma-norma budaya yang ada. Terlebih dengan akan semakin majunya perkembangan Nusa Tenggara Barat saat ini. “Sebagai daerah destinasi wisata, tentu yang akan datang ke Lombok khususnya akan banyak budaya-budaya baru. Jangan sampai budaya itu ditiru dan budaya yang ada ditinggalkan,”ungkapnya. Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, SIP yang membuka acara menyampaikan, terkikisnya budaya lokal saat ini tidak hanya karena datangnya budaya baru, namun kurangnya transpormasi nilai dari para pendahulu hinga kepada mereka. Oleh karena itu, perlu adanya suatu penanganan yang khusus untuk menyambung pemahaman tentang budaya kepada generasi muda.

Jika rasa cinta pada generasi muda ini tidak ada kepada budaya yang telah ditinggalkan oleh para leluhur, dikhawatirkan pembangunan-pembangunan yang ada akan terus diubahnya sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Tak lagi memperdulikan norma-nroma budaya social kemasyarakatan, dan norma agama.”Oleh karena itu semua harus berjalan beriringan satu sama lain, “jelas Pathul.