Wabup Loteng, L Pathul Bahri langsung meninjau lokasi jembatan rusak di Dusun Peras Desa Kidang yang menghubungkan dengan Desa Mertak Kecamatan Pratim

Perbaikan Diupayakan Awal Tahun 2017

Wabup Loteng, L Pathul Bahri langsung meninjau lokasi jembatan rusak di Dusun Peras Desa Kidang yang menghubungkan dengan Desa Mertak Kecamatan Pratim

Wabup Loteng, L Pathul Bahri langsung meninjau lokasi jembatan rusak di Dusun Peras Desa Kidang yang menghubungkan dengan Desa Mertak Kecamatan Pratim

LOTENG—Wabup Loteng, L Pathul Bahri langsung meninjau lokasi jembatan rusak di Dusun Peras Desa Kidang yang menghubungkan dengan Desa Mertak Kecamatan Pratim, beberapa hari yang lalu.

Dalam kunjungannya, Wabup langsung mencoba melewati jembatan yang biasa dilalui masyarakat sekitar terutama siswa SD untuk berangkat maupun pulang sekolah.

Pathul dalam komentarnya mengaku miris melihat kondisi seperti ini. Bahkan yang lebih miris lagi, ia tidak mendapat laporan lebih dini dari masyarakat terutama Pemdes maupun Kecamatan.

“Ini seharusnya jadi laporan khusus dari pemerintah desa kepada kami. Kalau kami turun, mustahil bisa menjangkau semua dalam waktu singkat,” ucap Wabup dengan nada kesal.

Wabup sendiri sempat mencoba melewati jembatan yang terbuat dari bambu dan dibuat oleh masyarakat secara swadaya ini. Pada saat itu, tali jembatan hampir putus dan membahayakan Pathul.

Pasalnya, ketinggian jembatan dengan sungai yang dipenuhi batu terjal di bawahnya mencapai sekitar 20 meter. Untung, Pathul cepat tanggap dan segera berjalan ke pinggir.

“Nyawa siswa terancam kalau begini,” seru Pathul masih dengan nada kesal.

Ia dengan tegas mengatakan, jika Pemdes, Kecamatan tidak mampu membangun jembatan dengan Dana Desa mencapai Rp. 700 juta maupun ADD yang mencapai Rp. 1,1 Miliar per tahun, maka Pemkab akan mengalokasikan dana pada tahun 2017 untuk pembuatan jembatan di lokas ini.

“Minimal jembatan gantung, tapi yang agak permanen,” ungkapnya. “Sementara sampai jadi nanti, siswa hati-hati saja dulu,” tandasnya.

Sementara menurut informasi yang didapat dari Kades Kidang, Abdul Razaq, karena ketidak mampuan pemerintah desa untuk menganggarkan pembangunan jembatan yang menghubungkan dua desa Kidang dan Mertak ini, masyarakat sejak puluhan tahun lalu membangun dan merenovasi jembatan hanya menggunakan bambu.

Biaya yang harus dikeluarkan desa untuk membangun jembatan penghubung terutama siswa yang bersekolah di SDN Pasung cukup besar. Sementara pembangunan tidak bisa mengalokasikan anggaran hanya untuk satu program saja.

“Kami di desa tidak mungkin biayai itu semua,” ungkapnya. (ray/humas)